Unfinish learning

Makasih ya Allah, buat semua karunia dan amanah yang engkau titipkan ..

Walau ternyata tidak mudah, beberapa kali merasa lelah, menangis, krisis percaya diri, merasa gagal, tapi ternyata aku masih bertahan ..

Yang paling menyakitkan dari mengurus amanah besar ini adalah rasa bersalah.. ya, terkadang yang paling keras mengkritik adalah diri kita sendiri. Mengetahui kesalahan atas perbuatan sendiri yang berdampak pada orang yang kita sayang memang menyakitkan. Berapa kali aku harus menegur diri sendiri ~

Allahku .. aku makin tersadar aku ini kecil dan masih banyak kurangnya.. ampuni setiap khilaf dan kesombongan pada diri ini ya Allah ..

Buat Haura, makasih udah mau Nerima ibu apa adanya .. kita belajar bareng terus ya .. ibu Belajar buat jadi ibu yang baik, Haura juga belajar buat terus beradaptasi dengan dunia ini ..

Wahai diri, terimakasih yang terus mau belajar dan berusaha, tetap bertahan sampai detik ini saja kamu hebat. Tak apa masih banyak kurang di beberapa titik, tapi bukan berarti kamu gagal. Dan kalaupun gagal, its oke bisa kita coba lagi.

Tak lupa untuk suport system Terbaik, suami terhebat. Yang tak pernah menghakimi, tapi siap belajar bersama ..

Ya Allah .. ridhoilah setiap usaha ini~~

4 Purnama

Kayanya ingin mulai cerita disini lagi, sekarang tentang perjalanan Haura di bulan ke 4 ini.

Motorik kasar : di 4 bulan ini ibu, ibu punya 2 fokus nih, berlatih berguling juga stimulasi persiapan duduk (belum fokus ke duduk tapi ke persiapan duduk)

MK – Done : yang sudah dilakukan di usia 4 bulan ini, tentu Tummy time, dengan durasi yang diperpanjang dari usianya di 3 bulan kemarin, terus juga lebih sering di rangsang badan atau pantat nya agar mau berguling sendiri, Haura juga sering di ajak bermain sambil tidur miring atau tengkurep, untuk pengenalan stimulasi duduk mulai dari di pegang kedua tangannya saat posisi telentang lalu di tarik pelan, awal Haura belum faham, saat tangannya di tarik perlahan badannya otomatis naik, bukan kepala nya, its oke, itu jadi bahan tertawaan kami saat melatih Haura, dan setelah di beritahu dan latihan terus Haura faham dan skarang sudah kuat angkat kepala saat ada pegangan.

Motorik Halus : di 4 bulan ini juga ibu mulai mengenalkan Haura pada tekstur, rumput, daun, pasir, jalan, genangan air, biasanya ini dilakukan pagi pagi sambil jalan jalan pagi, Alhamdulillah di bulan ke 4 ini cukup konsisten untuk jalan pagi walau bentar dan dekat hehe

Fitrah Keimanan : di bulan ke 4 ini Haura mulai suka di ajak sholat, biasanya Haura nunggu di kasur dan ternyata sekarang sering nangis jadilah mulai di gendong atau di tidurkan di sejadah ternyata ini bekerja, dan Haura senang setelah nya kita berdoa bersama, gak lupa rutin berdoa dan bersyukur saat mau tidur malam ..

Emosi : maasyaa Allah di bulan ke 4 ini, Haura makin ekspresif mulai dari marahnya makin keras hahhaa.. ketawa makin receh, juga menunjukan ekspresi saat kesal, bosan, atau mengantuk .. kadang dengan menangis atau menggerung hahahaa

Sebelas Purnama

Tulisan pertama di tahun 2022 ini, setelah sekian lama gak nulis. semoga tahun ini bisa konsisten nulis lagi di sini. ^^

Karena hari ini bertepatan dengan tanggal 13, maka hari ini didedikasikan untuk refleksi. Tepat 11 bulan setelah pergantian peran, bagaimana kabar iman hari ini ? sudahkah ia bertambah sebagaimana hitungan hari yang terus maju ?

walau masih terasa terseok dan terus mempertanyakan diri sendiri, it’s okey.. gapapa pelan-pelan aja, suatu saat akan menemukan dimana pintu cahaya itu terbuka lebar. Sebenernya kita atau mungkin khususnya aku, hanya perlu memperluas arti kontribusi diri yang selama ini diartikan hanya untuk lingkungan. Kembali menyelami diri merasa bahagia atas apa yang ada di depan mata dan yang dapat dilakukan, semua itu gak sia-sia kok ! kita hanya harus melihat dari banyak sisi yang selama ini kadang tidak terlihat, (lebih ke menyemangati diri sih ya hehe)

Tapi jauh dibalik semua kegelisahan tetang diri itu, banyak sekali hal yang harus disyukuri dan di apresiasi, sebenernya ada jurnal khusus untuk catatan ini. jadi jangan fokus pada kegelapan, fokuslah pada cahaya ! I’m Happy, and that’s enough ^^

Memilih Menjadi Bahagia

Ada yang bilang, Bahagia adalah sebagai cerminan dari hati yang penuh syukur. Dan kenapa menggunakan kata menjadi, ya.. karena Bahagia itu memang dibuat dan diciptakan. Kita yang memilih mau menjadi Bahagia atau tidak, dan aku memilih untuk menjadi Bahagia.

Dalam perjalan 24 hari pergantian peran ku, aku sangat bersyukur karena selalu dikelilingi oleh orang-orang yang baik, penuh dengan rasa cinta, dan tentu menyayangiku. Memiliki suami yang selalu berusaha memuliakanku adalah bentuk keberkahan dari Allah yang selalu aku syukuri. Ditambah lagi, mempersiapkan diri untuk menerima amanah dalam pergantian peran selanjutnya tak kalah membuatku makin terharu dengan cara Allah menjagaku.

Bukankah Allah memberikan amanah, sesuai dengan kesiapan hambanya ? maka yang aku lakukan adalah mempersiapkan sebaik dan semampuku.

Allah ku, sampaikan rasa sayang dan syukurku pada hati orang-orang yang aku sayangi. Lindungi mereka, jaga mereka dan tetapkanlah kami agar selalu dalam kebahagian-kebahagiaan takdirMu.

Menyelami Rasa

Hemm.. kali ini pengen curhat tentang dunia pendidikan dan parenting.

Alhamdulillah, dikasih rejeki kesempatan buat ngajar mulai dari kelas kecil (satu murid satu guru) sampai kelas besar (ngajar di kelas). Ngajar dari non formal, sampai masuk dunia pendidikan formal. Ngajar mulai anak PAUD sampai ngajar anak SMP. Terjun ? Jelas ..!!

Kayanya, setiap minggu kaya rollercoaster. Media nya selalu beda, lapangannya beda, metode jelas harus beda. Tapi ternyata, dengan segala variasi kelas ini, aku jadi bisa ngerasain setiap dinamika itu.

Ya, setiap anak itu unik. Allah sudah lahirkan tiap anak ke bumi ini beserta installannya, sebagaimana kata Allah saat usia 4 bulan masih dalam kandungan Allah tiupkan 4 perkara : rejeki, amal, ajal, kecelakaan/kebahagian. Allah install kan keimanan, bakat, serta sejuta rahmat lainnya.

Melalui segala dinamika ini juga, mengajarkan tentang bagaimama merawat fitrah2 ini pada Anak. Terutama yg masih ada di 7 tahun pertama.

Belajar tentang pendidikan berbasih fitrah,belajar tentang merawat serta memupuk fitrah dsini aku nemuin ada celah. Ya, ada fitrah2 yang kurang terawat, bahkan di diri pribadi. Sempat ingin mengeluh bagaimana merawat fitrah anak yg masih bersih, sedangkan fitrah dalam diri saja sudah banyak yang tidak terawat, bahkan mungkin ada fitrah yang terluka.

Tapi bukankah Allah maha mengetahui, maha pemaaf, serta maha memampukan ?

Belajar menyelami jiwa anak,sejatinya sedang menyelami jiwa sendiri. Ternyata ini yang kurang, ternyata ini yang terluka, ternyata ada cacat disini dan disitu. Maasyaa Allah. Bukankah Allah maha memberi jalan ?

Ternyata benar, pendidikan itu tentang membentuk kebiasaan dan meninggalkan kenangan (Bunda Elly Risman)

_____________________

Share tentang fitrah base education ??

Dimulai dari belajar tentang pendidikan berbasis fitrah, yuk bahas satu-satu..

1. Fitrah Keimanan
Kayanya udah familiar banget kalau setiap kita dilahirkan dalam fitrah. Ya, betul sejatinya diri kita selalu rindu untuk menghamba pada Allah. Kita sudah punya installan itu, tinggal bagaimana kita sebagai orang dewasa membantu anak yg masih kecil untuk mengaktifkan nya. Fitrah keimanan ini tentang mindfulness akan Tuhan. Bahwa kita melakukan ibadah bukan karena takut apalagi rutinitas semata. Tapi tentang bagaimana ada Allag dalam diri kita,melihat kita, mengawasi kita. Berhasil kan kita merawat fitrah ini ?

2. Fitrah Individualitas dan Sosialitas

Tunggu di postingan selanjutnya yaa hihiii..

year of gratitude

selamat datang 2021 …

alhamdulillah, Allah sampaikan usia ini sampai detik ini .. harapannya, tulisan ini bisa lahir di hari pertama tahun 2021, tapi apa daya.. karena satu dan lain hal tulisan ini lahir di beberapa hari di 2021

aku belum mau bicara tentang 2021, mau sedikit nostalgia.. me rewind semua yang sudah dilakukan dan apa yang terjadi di tahun 2020. kayanya tahun 2020 sangat kental dengan pandemi, ya.. ini juga yang pertama ada dibenak ku saat mendengar angka 2020.

Dulu pernah kepikiran, gimana sih rasanya ada di tahun 1998, yang katanya sangat kacau. rupiah sangat anjlok. kriminalitas dimana-mana. hemm, walaupun beda kasus, tapi tahun 2020 ini cukup menggambarkan dan memberi banyak pelajaran yang sangat berharga.

dari pada mengutuk, aku ingin lebih bersyukur. mau bagaimanapun 2020 ini sangat berarti. tahun ini mengajarkan kepadaku betapa usaha dan tawakal itu begitu dahsyat. tahun ini dipertemukan dengan orang-orang baru. ada yang hanya lewat.. ada yang menjalin hingga dekat.

tahun ini juga menjadi ajang aku melejutkan mimpi. memaksimalkan aktualisasi diri. betapa Allah tau apa yang sebenarnya menjadi kemampuan kita.

tahun ini aku menulis 3 buku antologi.. walau masing bareng-bareng dan berupa e-book tapi itu adalah loncatan buat diri yang masih fakir ilmu ini. belajar ngedit video buat belajar. siapa sangka, aku yang gaptek ini belajar memaksimalkan diri ini mencapai titik batas maksimal untuk terbang tinggi. mengenal dengan whitebee juga termasuk hadiah yang luar biasa.

aku kira, tahun ini akan berlalu begitu saja dengan sejarah yang penuh dengan rasa memilukan. ternyata, tahun ini menjadi waktu untuk aku menemukan dan lebih mengenal diriku. bahkan ini adalah menjadi hal yang sangat aku inginkan.

tahun ini juga menjadi tahun aku memupuk tawakal untuk memaksimalkan ibadah. aku siap untuk naik level.

rasanya, ingin memeluk tahun ini .. memeluk setiap usaha juga do’a yang dilejitkan ke langit hingga mengetuk arsyNya.

ya Allah, peluk aku .. jangan biarakan aku sendiri atau merasa sendiri..

terimakasih untuk setiap nama yang menghiasi tahun 2020 ini .. kalian menjadi titik aku bertumbuh, titik aku kembali kepada pemilikku. dan aku, siap memaksimalkan diri dengan mu, duhai teman bertumbuh..

Menyiapkan Perjalanan Panjang

apa yang ada dibenak kita saat mendengar kata perjalanan ?

apakah sebuah bis besar yang penuh dengan penumpang ? atau kereta yang begitu panjang dengan penumpang sesak tapi selalu sedia kopi dan pop mie di pagi hari ?

ada apa dengan sebuah perjalanan ?

bahkan Rosulullah saja dalam daditsnya menyebutkan : “bertebaranlah kamu di muka bumi Allah” dan di hadits lain “hidulah kamu di dunia ini seperti seorang musafir (orang yang bepergian)”. Jikalah perjalanan dikatakan sebuah hijrah dari satu tempat ke tempat lain, maka ada apa dengan hijrahnya Rosulullah pada saat itu.

aku suka bepergian, dan aku selalu menikmati setiap perjalanan yang pernah dilewati. selalu menakjubkan. selalu penuh makna. Bahkan pohon yang yang daunnya bergerak karena angin saja seolah memberi hikmah.

sejujurnya, dulu aku takut bepergian seorang diri. Apalagi harus menggunakan bis, kereta, ya karena belum terbiasa. Tapi ternyata Allah menginginkan hal lain. Allah ingin aku melihat luasnya bumi ini. Allah ingin aku mengambil lebih banyak makna dari banyaknya perjalanan ini. Allah ingin aku merasakan betapa besarnya Ia dengan segala pencipataannya yang dahsyat. Allah ingin aku lebih mengenalNya.

dari sebuah perjalanan pula, ku coba gantungkan setiap takdirku. ku titip jiwa ini pada pemilikku. akankah ia sampaikan aku pada keluargaku dalam keadaan utuh ? atau mungkin berlebih dengan segala buah tangannya ? hihii.. atau justru yang lainnya~

maka sebuah perjalanan ada sebuah bentuk ketawakalan. dan dalam prosesnya, membutuhkan bekal yang sesuai. ya Allah, aku siap untuk perjalanan selanjutnya. asal ada engkau yang selalu membimbingku~~~

________________________________________

ditulis dalam perjalanan Bekasi-Bandung KM 80

Kuliah itu penting gak sih ?

Tiba-tiba ingin nulis asumsi tentang urgensi kuliah. Ini tulisan subjektif yang diambil dari pemikiran pribadi.

Kuliah penting gak sih ?

Kuliah itu penting gak penting aslinya ..!!

Kuliah itu penting kalau kita tau apa yang mau kita tuju, apa yang mau kita dapetin / raih di tempat itu.

Karena dasarnya, perlu diketahui yang wajib itu menuntut ilmu, bukan sekolah. Jadi kuliah itu cuma salah satu jalan. Ketika kita punya jalan lain yang lebih efektif buat dapetin ilmu, maka kuliah ini hanya menjadi opsi dari sekian banyak pilihan.

Karena konon katanya, kita hanya menggunakan 30% ilmu yang kita dapet di kelas. Selebihnya ? Ilmu hiduuup haha..

Itu pun yang menurut gita kuliah penting, karena disini gita ngerasa dapet Insight gimana cara kita melihat setiap permasalahan dari sisi yang berbeda, gimana kita ditempa, hingga gimana kita belajar berkembang. Tapi kembali lagi ini hanya salah satu jalan dari sekian banyak jalan.

Tapi, kuliah itu gak penting !!

Kalau, kita gak tau tujuan kita kuliah apa, apa yg mau kita raih apalagi cuma ikut-ikutan karena temen2 juga kuliah.

Percayalah, di jaman sekarang gelar itu bukan segalanya. Ada beberapa pekerjaan yang memang membutuhkan tenaga ahli dan profesional kaya dokter, bidan dll yang gak bisa kalau gak kuliah dulu. Tapi ada juga ko yang sebenarnya bisa diraih tanpa kuliah.

Terus apa aja sih nilai yang perlu diraih di bangku kuliah /kampus :

1. Relasi

Temen-temen, masa kuliah itu pintu relasi terbuka lebar menurut gita. Maka saat kuliah perbanyaklah bergaul (yang positif) untuk menambah relasi sebanyak banyaknya. Ini sangat berguna saat dunia pasca kampus, gimana caranya nambah relasi ?

2. Ikut organisasi

Balik lagi, ini subjektifitas gita. Organisasi ini penting bgt buat kita nambah relasi. Tapiii. Bukan berarti kita masuk semu organisasi yang kita sendiri gak faham kontribusi dan peran kita di organisasi tsb apa. Ikutlah organisasi yang memang benar2 menambah dan meningkat level diri kita. Dulu gita ikut Karisma ITB Alhamdulillah, ini organisasi luar kampus yang keren banget,bisa ketemu banyak orang hebat (Alhamdulillah pernah ketemu owner zoya, prof thomas djamaludin, dll). Karena disini juga Alhamdulillah dikasih kesempatan dapet beasiswa dari salman ITB (info kali ada yang cari beasiswa).

3. Nilai adalah tanggung jawab dan ibadah

Walau kita aktif, tapi tetep ya pelajaran di kelas gak boleh disia-siakan. Bukan ngejar nilai tapi ini bentuk pertanggungjawaban kita atas ibadah (kuliah) kita.

Heemm…. Apalagi yaa.. kayanya harusnya masih banyak .. ada yang mau nambahin ??

Garis Waktu

Kita tidak bisa mengontrol kondisi apa yang akan kita hadapi saat ini, atau yang akan kita hadapi di masa mendatang. Tapi kita bisa mengontrol sikap apa yang keluar dari diri kita saat kondisi itu terjadi.

Faktanya, kita selalu memiliki pilihan untuk berfikir ulang akan apa yang terjadi. Bahagia itu bukan hasil, tapi bahagia itu adalah kata kerja yang memang harus kita upayakan. Bukan oleh orang lain, tapi oleh diri kita sendiri.

Setiap dari kita berhak untuk bahagia, tapi bukan bahagia atas perlakuan dan kondisi disekitar kita, tapi harus bahagia atas respon diri kita terhadap lingkungan kita.

Maka bahagia, kecewa, adalah pilihan respon dalam diri kita atas apa yang menimpa kita. Respon ini juga dipengaruhi oleh ekspektasi atau standar-standar dalam diri.

Karena ekspektasi yang tinggi, standar yang tinggi, maka kesalahan kecil saja kita langsung marah atau pencapaian-pencapaian kecil atas diri ini kita mudah sekali abai.

Jadi, mulailah kelola setiap respon emosi kita. Sederhanakan ekspektasi kita. Setiap dari kita memiliki garis waktu yang berbeda untuk bersinar dan bermanfaat. Asal kita tetap berada di titik usaha, tetaplah berproses, maka jangan berkecil hati.

Bahkan, seekor ulat saja harus mengalami proses yang panjang untuk menjadi seekor kupu-kupu.

Tetaplah berproses, jangan lupa bahagia ^^

All about HS – Part 3

Di part 3 ini mau lebih menitik beratkan tentang pendelegasian dan menurunkan ekspektasi.

Part 3 ini Insigne yang di dapet dari teh Kiki Barkiah dan Teh Patra selaku pelaku homeschooling.

Kenapa banyak ibu yang stress dalam memdampingi anak ? Karena kadang kita lupa tujuan kita melakukan itu apa.

Ibu ditumpuk dengan segudang tugas dan ekspektasi (ibu harus bisa segala), kadang kita lupa, ibu juga hanya hamba Allah yang banyak kekurangan dan ketidakmampuan.

Maka tentukan kemana arah perahu (keluarga) ini akan berlayar. It’s okay to not be okay~~

Teh kiki : ” saya bersepakat dengan suami untuk menjadikan anak2 sebagai prioritas, maka urusan domestik akan dikerjakan setelah urusan anak selesai, yang membuat ibu menjadi mudah marah karena ibu di tuntut sempurna di semua aspek”

Teh patra : “tidak masalah jika kita tidak mampu maka kita meminta bantuan atau mendelegasikan pada orang lain”

Karena hakikatnya dalam pendidikan, kurikulum itu penting, tapi yang terpenting adalah hati seorang guru. Maka hati siapa yang paling ikhlas dalam menemani pendidikan (tumbuh kembang) anak ?

Bersambung~~~

Wallahu’alam

Design a site like this with WordPress.com
Get started