jadi, setelah kita mengenal bahwa HS ini bukan hanya sekedar tentang sekolah, tapi tentang pendidikan keluarga dan keterlibatan orang tua didalamnya.
terus bagaimana pendidikan ini terus berlangsung ?
di Part 2 ini, gita mau cerita tentang beberapa keluarga yang memutuskan anaknya untuk melaksanakan pendidikannya di rumah yang ditangani langsung oleh kedua orangtuanya.
- Keluarga Teh Insania Zakiyah
Teh insania atau akrab di sapa teh Nia, memutuskan kedua anak pertamanya untuk HS karena merasa tidak cocok dengan pendidikan yang ada. Teh Nia mengusung kurikulum di keluarganya antara lain ada Sohhibul Qur’an yaitu kurikulum menjadi sahabat Al-Qur’an. Karena ini dijadikan kurikulum maka segala pembelajaran dikembalikan kesini. ada juga jadwal seperti tadabur Qur’an setiap habis subuh, dan ini wajib sifatnya.
Teh Nia juga kurang setuju dengan sistem mondok yang ada dipesantren, kenapa ? Karena Teh Nia ingin anak-anaknya dapat berkontribusi di masyarakat sekitar. dan menurut Teh Nia mondok menjadi tidak sesuai dengan kurikulumnya. Tapi, di usia … (maaf lupa) harus merelakan anaknya mondok untuk menempuh pendidikan Tahfidz (atas dasar keinginan anaknya).
hemm.. sebenarnya, satu yang paling menyentil dari prinsip yang dipegang oleh Teh Nia dan sekeluarga adalah : mengembalikan peran ayah sebagai pemegang keputusan, tidak memutuskan dahulu sebelum sang ayah mengetuk palu. Selanjutnya adalah menyertakan Allah dalam segala sesuatu. Disini teh Nia mengajarkan tawakal yang kuat dalam mendidik anak. Maasyaa Allah..
terus legalitasnya gimana untuk ijazah ?
untuk ijazah, ada beberapa solusi yang ditawarkan. anak pertama teh Nia menggunakan fasilitas sekolah payung. sekolah payung ini adalah sekolah Formal namun untuk pembelajaran bisa dikembalikan kepada keluarga. tapi untuk anak kedua, teh nia menggunakan fasilitas kesetaraan atau paket yang ada di PKBM karena gagal mendapatkan sekolah payung.
Untuk pelajaran saat ujian gimana ?
bisa dikebut ko .. karena pada dasarnya anaknya sudah siap. jadi saat dikenalkan pada pelajaran akademis anak lebih mudah mencerna.
Disini mengingatkan pada Fitrah anak, yaitu Fitrah belajar yang harus ditumbuhkan sebelum usia 7 tahun. maka saat usia 7 tahun anak sudah siap. siap secara mental.
Bersambung …“`~~~~
mohon maaf jika ada kesalahan, sangat terbuka untuk kritik dan saran ^^
